Habitudes

Ada habitus yang menentukan ciri karya seniman itu, misalnya, medium yang spesifik, corak warna yang khas, pokok perupaan yang mempribadi… banyak lagi. Ada pula kebiasaan yang mengendap di wilayah abstrak, seperti bagaimana seniman merumus kerangka berpikir, menutur cerita, atau melontar tanya. Kebiasaan mereka inilah yang membuat kita, sebagai seorang penyimak, penggemar, atau barangkali rekan dan teman karib seniman itu, dapat mengatakan dengan percaya diri, “Aku mengenal karya-karyanya.” Atau, boleh jadi kita senantiasa terpukau oleh daya jelajah mereka yang tak terduga—karena kegemaran menjelajah pun dapat menjadi sebuah kebiasaan. Seniman membentuk habitus, dan habitus membentuk kembali seniman.

Amongst reeds, evanesces, shines…

“All senses, including vision, are extensions of the tactile sense; the senses are specialisations of skin tissue, and all sensory experiences are modes of touching and thus related to tactility. Touch is sensory mode that integrates our experience of the world with that ourselves.” – Juhani Pallasma, 2008

KERNING

‘Kerning’ adalah bentuk apresiasi terhadap negative space, yang dikaitkan Galih dengan latar semesta domestik dan praktik kerja ingatan. Karya-karya dalam pameran ini dikonstruksi dengan meminjam kenangan dari berbagai sumber tanpa mencari tahu konten atau konteks dari citraan tersebut karena pertanyaan yang disematkan Galih bukanlah “Itu ingatan tentang apa?” tetapi “Apa itu ingatan?”

Realitas Layar: Rumah, Dunia, dan Kesintasan

“Manusia modern memiliki banyak pilihan, tapi tak punya cukup waktu. Itu menyebabkan disorientasi tertentu. Bila kita bisa berpindah tempat secepat kilat, kita kehilangan kesempatan menikmati semua rinci perjalanan. Berita yang kita terima harus disiarkan begitu cepat, akurasinya sering meragukan. Lagipula media adalah entitas bisnis dan politik, mungkinkah mereka merepresentasikan realitas secara adil dan berimbang? Bila kepercayaan terhadap sistem yang hegemonik sudah luntur, apa dampaknya terhadap pencerapan, nilai-nilai, dan pengambilan keputusan seorang perupa, suami, sekaligus ayah pada tataran domestik sehari-hari?”

-R.E. Hartanto