BONGKAR GUDANG #1: XOXO

06–20.04.2019

(English below.)

Bongkar Gudang adalah pelantar Rubanah untuk pameran karya-karya dalam koleksi tertentu. Ada beragam aspek yang bisa ditelusuri, digali, dan diungkap dari jenis-jenis koleksi yang berbeda, mulai dari koleksi pribadi, milik lembaga swasta yang membuka diri untuk publik, sampai dengan lembaga milik negara. Mulai dari landasan pemikiran tindak mengumpulkan, cita-cita atau harapan yang ditautkan pada sekumpulan karya tsb, sampai dengan apa yang bisa diwariskan melalui sebuah koleksi. Pada setiap perhelatannya, Bongkar Gudang akan menjelajahi setidaknya dua aspek yang bertautan dengan praktek seni terkini: Pertama, si pemilik koleksi serta keterwakilan diri dan gagasan mereka; dan, kedua, posisi gagasan dalam karya-karya yang dikoleksi —seturut dengan praktik senimannya— dalam medan seni kita sekarang. Edisi perdana Bongkar Gudang kali ini menjelajahi senarai karya milik sembilan kolektor muda yang tinggal dan bekerja di Jakarta. Mereka tergabung dalam sebuah ruang percakapan yang, dalam kata-kata mereka sendiri, cenderung ceria dan optimis.

Bongkar Gudang #1 XOXO menolak percaya pada mitos bahwa tidak ada kolektor yang membeli karya perempuan perupa, terutama di Indonesia, karena karir mereka dianggap tidak bisa stabil, apalagi setelah ia menikah dan punya anak. Perjalanan kami kali ini diawali dari pertanyaan sederhana: Ada berapa karya perempuan perupa dalam koleksi Anda? Pilihlah dua perupa yang ingin karyanya ingin Anda pamerkan! Ada yang langsung memberi daftar nama cukup panjang, ada yang menjawab dengan dua nama secara langsung, ada juga yang menunggu jawaban yang lainnya baru menjawab dengan satu nama dengan penuh keyakinan. Pertama kali daftar nama perupa terkumpul, jumlahnya hampir 40. Kemudian, kami mulai menelusuri karya-karya yang mana sajakah yang ada dalam sembilan koleksi ini. Sembari membayangkan bagaimana karya-karya ini ditata supaya bisa dialami sebagai sebuah pameran, dan terus bercakap-cakap dengan para kolektor ini, kami mulai menyadari kalau daftar perupa hampir mencapai 60, sehinggap pilihan karya bukannya makin sedikit dan tema-tema yang hadir dalam karya-karya para perupa ini pun malah meluas.

Meluasnya tema dan gagasan yang diusung para perupa ini ternyata hadir dengan sebuah keterpautan rupa. Sebagian besar karya-karya yang terkumpul hampir secara harafiah menghadirkan bentuk tubuh. Baik tubuh sang perupa itu sendiri, tubuh lain yang jelas identitas atau ketokohannya, ataupun tubuh-tubuh lain yang bisa jadi siapa saja. Seni modern dan kontemporer menganggap tubuh manusia adalah “alat” yang paling terdepan untuk membicarakan soal-soal gender, seksualitas, ras, etnik, dan beragam soal identitas politik. Ironisnya, isu-isu minoritas ini kerap dianggap hanya diusung oleh para minoritas dalam dunia patriarkal yaitu perempuan, LGBTQI, non-gender-conforming, dst. Dalam karya-karya para perupa di pameran ini, tubuh tidak dihadirkan untuk menambah ironi. Tubuh-tubuh ini justru dihadirkan, dikedepankan, dipertontonkan untuk dikaji lagi, untuk mengajak kita semua membaca lagi dengan lebih dekat. Apakah asumsi kita selama ini adil dan setara? Apakah alasan dari pendapat kita selama ini menganut praduga tak bersalah? Sejauh apa kita berani mempertanyakan lagi cara pandang kita sendiri? Membaca-ulang dengan aktif adalah salah satu cara untuk tidak terjebak pada cara pandang umum yang patriarkal —kalau bukan misoginis. Dalam Differencing the Canon: Feminist Desire and the Writing of Art History (London & New York, Routledge: 1999), Griselda Pollock menganjurkan pembacaan-ulang dengan aktif ini untuk melihat lagi, mengaji lagi hal-hal yang sudah tampak, sudah kelihatan, sudah diketahui, dan sudah diakui. Dalam ruang-ruang keterwakilan inilah kita jadi bisa menggaris-bawahi hal-hal yang juga hadir, namun disikapi sebagai yang liyan (the other), yang berbeda, atau yang subordinat. Apabila dalam pembacaan umum sebelumnya keliyanan ini dibebani tugas untuk menyorot yang si kanon agar makin dominan, kali lampu sorotnya kita geser sedikit untuk mendengarkan narasi yang tadinya diliyankan.

Bagaimana caranya menyadari bahwa kendali lampu sorot ada pada kita sendiri agar kita bisa mendengarkan narasi yang berbeda itu? Menumbuh-kembangkan kecurigaan serta rasa penasaran adalah salah satunya. Kecurigaan akan membuat kita peka pada situasi dan rasa penasaran akan membuat kita bertanya-tanya lebih lanjut. Dalam pameran ini, pertanyaan kami berawal pada: Ketika perupa menggunakan tubuhnya, apakah kita serta-merta beranggapan bahwa mereka sedang membicarakan diri mereka sendiri? Sekalipun yang hadir adalah representasi dari tubuhnya sendiri, tak mungkinkah para perupa ini sedang membicarakan hal-hal lain di luar dirinya? Dalam karya Kinez Riza, misalnya, “aku” yang hadir jelas adalah dirinya. Namun, elaborasi eksistensialnya bisa saja terjadi pada kita semua, manusia urban yang mempertanyakan fungsi sosialnya. Sementara, kehadiran figur sang perupa dalam karya Titarubi dan Windi Apriani, misalnya, tak langsung menjelaskan apakah mereka membicarakan dirinya sendiri atau manusia dalam lingkungan alamnya secara umum. Tanpa kehadiran tubuhnya secara penuh pun karya Murniasih berhasil menghadirkan dirinya sendiri dalam alam bangunannya. Dalam citra dirinya yang tak tampak itu, apakah Murniasih sedang menjadi “aku” untuk dirinya sendiri? Siapa yang sedang dibicarakannya? Pada karya Ipeh Nur, siapakah sang “aku” dihilangkan kemudian disembunyikan di belakang gambar?

Saat figur, karakter, atau tokoh tertentu hadir dalam sebuah karya seni, apakah sosok-sosok ini segera kita hubungkan dengan —atau bahkan berikan sebuah— identitas tertentu? Baik sosial, politikal, maupun kultural. Pada karya Bunga Jeruk, misalnya, katakanlah yang hadir adalah seorang anak perempuan dengan kulit relatif kuning, apakah ia kemudian harus langsung menjadi anak-anak di sekitar kita, di Indonesia, atau Asia, secara umum? Apabila yang muncul adalah perempuan bertubuh kecil dengan pakaian berwarna merah putih, seperti dalam karya Cinanti Astria Johansjah, apakah ia harus segera menjadi anak SD? Bagaimana dengan Wes Borland? Siapa dia? Apakah benar sang gitaris Limpbizkit yang ingin kita bicarakan? Bukankah yang lebih menarik adalah keputusan untuk menghadirkannya di atas kanvas, dalam bentuk lukisan? Kenapa ia dihadirkan dengan cara demikian? Apakah boneka kayu itu mewakili Octora? Octora yang mana? Siapa tokoh-tokoh dalam lukisan Fransizka? Apakah penting mengenal karakter mereka? Apakah kesan siapa mereka sudah cukup? Bagaimana dengan tubuh Melati dalam karya-karya Melati? Apakah kenyataan bahwa ia menggunakan tubuhnya berarti ia selalu selalu mewakili dirinya sendiri? Bagaimana kita membaca tubuhnya yang mewakili tubuh-tubuh lain? Dalam diagram rantai makanan Prilla, tubuh-tubuh manakah yang dibicarakannya?

Tanpa kehadiran sosok manusia pun, sejumlah karya masih saja mendorong kita untuk membayangan bahwa tanpa manusia, karya tersebut belumlah selesai. Sejumlah karya dalam pameran ini jelas-jelas membutuhkan keterlibatan manusia secara aktif agar keberadaannya terpenuhi. Pun bila tubuh jarang hadir, kecuali dalam bayangan atau pertunjukan karyanya, karya-karya Mella selalu membayangkan keterlibatan tubuh untuk ditutupi, diberikan sampul. Karya-karya Sara misalnya. Cermin yang berputar itu hanyalah hiasan dinding tanpa kehadiran dan interaksi kita. Kehadiran tubuh manusia yang berkaca pada cermin berputar itulah yang menyelesaikan karya itu. Sementara panggung dan lampu sorot Sara hanyalah ruang kosong sebelum Anda menaikinya. Seturut Griselda Pollock, semoga lampu sorot dan ruang kosong ini mengingatkan Anda bahwa kita semua bisa punya peran aktif dalam membaca-ulang sekaligus menciptakan kemungkinan lain untuk karya-karya dan praktik-praktik seni yang ada di sekitar kita. Ada tepuk tangan yang akan mengiringi sekecil apapun usaha Anda untuk membaca ulang.

Bongkar Gudang #1: XOXO
Unloading Storage #1: XOXO
06–20.04.2019

.

SENIMAN/ARTISTS
Ay Tjoe Christine; Bunga Jeruk; Cinanti Astria Johansjah; Dita Gambiro; Erika Ernawan; Etza Meisyara; Fika Ria Santika; Ferial Afiff; Fransizka Fennert; IGAK Murniasih; Ipeh Nur; Kinez Riza; Melati Suryodarmo; Meliantha Muliawan; Mella Jaarsma; Octora; Prilla Tania; Sara Nuytemans; Titarubi; Windi Apriani

.

KOLEKTOR/COLLECTORS
Arno Setiawan; Diaz Parzada; Imelda Setokusumo; Natasha Sidharta; Nicholas Tan; Rudi Lazuardi; Sigit Nugroho; Sunarto Tinor; Tom Tandio

.

Unduh katalog pameran/Download the exhibition catalogue
Di sini/Here 

***

Bongkar Gudang (Unloading Storage) is Rubanah’s platform to exhibit artworks from certain collections. There are a variety of aspects that can be explored, dug, and unveiled from different types of collections, be it private collection, one that is owned by private institutions opening up to the public, up to the collection of state-owned institutions. Starting off from the foundational framework of the act of collecting, hopes and aspirations associated with the artworks, up until what can be inherited by a collection. In each of its edition, Bongkar Gudang will explore at least two aspects of recent art practices: First of all, collectors along with their agency and ideas; and, secondly, the positioning concepts of the collected artworks —in line with the artists’ practices— in our art scene today. The first edition of Bongkar Gudang explores artworks from nine young collectors who lives and work in Jakarta. They are gathered in a dialogical space that, in their own words, tends to be cheerful and optimistic.

Bongkar Gudang #1 XOXO refuses to believe in the myth that collectors do not purchase works of women artists’, primarily in Indonesia, considering that their careers are bound to unstable, especially as they enter into marriage and motherhood. We embark this journey from a simple question: How many works of women artists do you collect? Choose two artists whose artworks you’d want to exhibit! Some immediately responded with a long list of names, others precisely replied with two names. A few waited for others’ responses before confidently settling on one name. The first artists list was close to 40. We then started assessing which artworks from these artists are in the nine collections. We then began picturing how these artworks would be arranged in order to build up exhibitionary experience whilst continuing on having conversations with these collectors. We started to realize that our list of artists had grown to 60. There were much more options than we thought.

The expansion of themes and concepts that are dealt by the artists came with common visual thread. Many of the artworks in these collections depicts bodies, almost literally. Be it the artists’ body, other bodies with particular identities or certain figures, and other bodies that may be anyone. Modern and contemporary art considers the (human) body as the utmost “tool” in speaking about gender issues, sexuality, race, ethnic, and other forms of identity politics. Ironically, these minority issues are often times considered as only being carried by the minority of the patriarchal world, which would be women, LGBTQI, non-gender-conforming, et cetera. In the artworks presented in this exhibition, body is not taken up to exaggerate this irony. Instead, these bodies are presented, put forward, and exhibited so that we can reassess them, to re-read them closely. Have our assumptions been fair and equal? Have our reasoning of opinions adopted the presumption of innocence principle? How far could we challenge our own perspectives? Re-reading is a way to not get trapped by the general perspective that is patriarchal—if not misogynic. In Differencing the Canon: Feminist Desire and the Writing of Art History (London & New York, Routledge: 1999), Griselda Pollock suggests active re-reading to re-examine and re-assess things on the surface, that are visible, known, and conformed. In these spaces with which we have agency, we can acknowledge the present of the others, the différance, the subordinate. If previously the others have always had to shed light on the canon to assure its dominance, this time we are tilting the spot light a little bit to listen to narratives that were previously been considered as “others”.

How do we become conscious that we have control over the spot light so we could always listen to the different narratives? One way would be cultivating suspicion and curiosity. Suspicion will encourage our sensitivity towards situations and curiosity leads us to deepen our questions. In this exhibition, our question derives from: When artists use their bodies, do we assume that they are speaking about themselves? Even though it is their own bodies that are visible in the works, could it be that these artists are talking about things outside of themselves? In Kinez Riza’s work, for instance, the “I” that appears is clearly herself. However, the existential elaboration can be relatable to us all, urban people who question their social function. Meanwhile, the presence of the artists figure in the works of Titarubi and Windi Apriani, for instance, does not directly explain whether or not they are discussing about themselves or human beings in their natural environment in general. Without the presence of her body as a whole, Murniasih’s painting succeeded in presenting herself in her constructed universe. Within the absence of her self-image, is Murniasih being the “I” for herself? Who is she talking about? In the artwork of Ipeh Nur, who is the “I” who is removed and then hidden behind the picture?

When certain figure, character, or profile appears in an artwork, do we instantly relate these figures with —or do we even give them— a certain identity? Be it social, political, or cultural? In a number of Bunga Jeruk’s artworks, for example. Let’s say that the girl character in presence have a relatively yellow skin tone. Does that then automatically warrant this little girl as the children around us, in Indonesia, or in Asia in general? If the person portrayed in the artwork is a small girl dressed in red-and-white uniform, does she then have to instantly be deemed as an elementary school student, thus Cinanti Astria Johansjah’s artworks? What about Wes Borland? Who is s/he? Is the person really the Limp Bizkit guitarist that we want to discuss about? Isn’t the more interesting part is the decision to present him/her on the canvas, taking the form of a painting? Why is s/he being presented in that manner? Does the wooden doll represent Octora? Which Octora? Who are the figures in Fransizka’s painting? Is it important to understand their characters? Is it enough to just have an impression of them? What about Melati’s body in Melati’s artworks? Does the fact that she uses her own body mean that she always represents herself? How can we read her body as a representation of other bodies? In Prilla’s food chain diagram, which bodies is she discussing about?

Even without the presence of a human figure, some artworks continue to push us towards the imagination that without humans, the artworks are yet to be done. A number of artworks in this exhibition clearly need the active involvement of humans so as to fulfill their existence. Other than in shadows or during the performance of her costumes, bodies are rarely present in Mella’s artworks. Yet, it drives us to imagine the involvement of body, even only hidden again, to be covered, to be wrapped. So as in Sara’s artworks. The revolving mirror is solely a wall decoration without our presence and interaction. The human body that reflects on the revolving mirror is what completes the artwork. Meanwhile, Sara’s stage and spot light is just an empty space before you take a step on it. Coming back to Griselda Pollock, hopefully the spot light and empty space serve as a reminder that we can all have an active role in re-reading and reinventing other possibilities for artworks and art practices around us. There will be a round of applause that follows however small your effort is to re-read.

Click here for the catalog