DAUR AMANAT oleh Ary “Jimged” Sendy

(English version not yet available)

Kurator: Grace Samboh
24.11.2018–12.01.2019

Rata-rata orang Indonesia hanya memakan daging sapi sebanyak 2,7 kg per tahun, sementara orang Australia bisa sampai 110 kg.
—Secondary cut, Ary “Jimged” Sendy, 2018

Kapan terakhir kali Anda memakan steak? Kita bahkan tak punya padanan kata steak dalam bahasa Indonesia. Memang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ada kata ‘bistik’. Tapi, artinya adalah lauk bersaos yang dibuat dari daging dan sebagainya. Bistik adalah jenis makanan yang kita sesuaikan dari para penjajah Portugis maupun Belanda. Kalau dalam penyajian steak bintang utamanya adalah sang daging, pada bistik yang dominan adalah saosnya yang cenderung manis itu. Komposisi isi bistik adalah sayuran, kentang, dan daging, dengan porsi yang hampir sama. Seturut dengan pola makan orang Indonesia kebanyakan, lauk adalah sesuatu yang dimakan besama nasi. Lauk bisa berupa daging ataupun sayuran. Dan, karena kita kaya rempah, cara membumbui daging atau sayuran itulah yang penting.

Nah, nasi menjadi bintang utama dalam pola makan masyarakat Indonesia akibat “kebijakan” Orde Baru. Saya harus pakai tanda petik, sebab, sekarang, kita bisa menilai bahwa tidak ada yang bijak dari swasembada beras REPELITA I (1969-1974). Cita-cita Orde Baru ini malah membuat punah khazanah bahan pangan berikut pola makan kita. Konsekuensi dari ‘kebijakan’ itu adalah ketergantungan petani Indonesia pada bibit beras karangan rezim ini, sekaligus pupuk dan model irigasi yang mereka kampanyekan secara besar-besaran. Para petani padi didukung pemerintah dari hulu ke hilir, mulai dari penyediaan bibit, pupuk, anti hama, saluran irigasi, sampai dengan distribusinya. Alhasil keragaman sumber karbohidrat di sepanjang nusantara punah. Belum lagi kenyataan bahwa ragam sumber pangan lainnya ikut punah karena sistem sawah anjuran pemerintah tsb. Untuk melengkapi agenda swasembada beras ini, kampanye pola makan ‘4 Sehat, 5 Sempurna’ pun disisipi slogan, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang makan nasi.”

Kita patut curiga: Mungkin karena steak tidak serta-merta dianggap lauk seperti bistik, maka tak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Lucunya, hal ini seperti sama sekali tak pernah terpikirkan oleh sang raja Orde Baru. Seturut swasembada beras, penguasa Indonesia selama 32 tahun itu juga berambisi menciptakan kebudayaan berternak sapi. Entah dari mana ia mendapatkan bisikan ini. Lebih anehnya lagi, langkah yang ditempuh sang diktator bukanlah pengembang-biakkan Sapi Bali yang jelas-jelas merupakan jenis sapi asli dari nusantara. Ia malah terpukau pada sapi Brangus dari Australia. Mungkin karena beratnya lebih dari dua kali lipat dibandingkan Sapi Bali. Seperti tak peduli siapa yang akan mengonsumsi sapi-sapi ini, pada paruh awal 1970an, Suharto membangun kawasan peternakannya di Tapos, Jawa Barat. Dari sanalah ia mulai mendatangkan sapi-sapi idamannya itu. Beragam daya, upaya, serta anggaran sepanjang rezim Orde Baru dikerahkannya untuk melakukan penelitian sekaligus mendistribusikan ratusan ribu sapi Australia beserta sperma bekunya ke pelosok nusantara. Selama nyaris dua dekade, bantuan presiden dalam bentuk sapi dari Australia ini sama gencarnya dengan agendaswasembada beras. Ia abai akan kenyataan bahwa orang Indonesia bukanlah pemakan daging. Ia juga tak ambil pusing bahwa banyak dari para peternak tak punya pengalaman dan tempat yang cukup memelihara sapi-sapi besar itu.

Daur Amanat - Inherited Order - Exhibition view

 

Apa hubungannya semua ini dengan kesenian? Dengan seni rupa? Sudah waktunya pertanyaan ini diganti: Seni rupa macam apa yang tidak terhubung dengan lingkungan hidupnya? Bukankah justru karena inilah ekspresi seniman pernah dielu-elukan?Sebagaimanapun sepinya studio seorang perupa, di mana sebagai sang jenius itu berkarya dan menghasilkan apa yang diidamkan Theodor Adorno sebagai monad itutetap saja ia makhluk sosial. Ia memijak di bumi, dan oleh karena itu ‘terpaksa’ mengikuti arus besar kehidupan. Ia bisa bergerak mengikutinya, melangkah lebih cepat darinya, atau melawannya sekalipun, tapi, tetap saja ia hanya bisa diidentifikasi seturut ruang hidupnya. Di zaman di mana manusia bebas berekspresi dengan banyak pilihan medium, ekspresi seniman macam apa lagi yang kita butuhkan? Menurut saya, privilese yang dimiliki seniman —paling-paling— kesempatan untuk memilih ruang hidupnya, waktranya, kepada siapa ia berpihak, terhadap siapa ia ingin bertanggung-jawab. Di era di mana lebih banyak orang yang punya akses Internet dari pada yang tidak, seni macam apa yang kita cari? Bahkan tak jarang sebagian dari kita justru mengetahui kejadian-kejadian besar di seluruh planet bumi ini melalui meme ketimbang situs berita. Apalagi yang bisa ditawarkan oleh kesenian dan seniman kalau bukan keberpihakan pada rasa penasaran dan kemampuan berpikir kritisnya? Adorno yang modernis di zaman avant-garde itu pun masih harus menyebutnya (seni sebagai) monad sosial.

Jadi, kapan terakhir kali Anda makan steak?

—Jakarta, 21 November 2018— 

.

DAUR AMANAT
Pameran tunggal Ary “Jimged” Sendy
dengan kurator Grace Samboh

.

Pembukaan pameran
24 November 2018, 19.00 WIB

Bincang seniman
1 Desember 2018, 16.00 WIB

Tur pameran
12 Januari 2019, 18.00 WIB

Waktu pameran
24 November 2018 – 12 Januari 2019
Senin-Sabtu, 10.00 – 22.00 WIB

Unduh kartu pos pameran di sini

.

***

Inherited Order
A solo exhibition by Ary “Jimged” Curator: Grace Samboh
24.11.2018–12.01.2019

On average, Indonesians only eat 2.7 kg of beef per year, whilst Australians can
eat up to 110 kg.

—Secondary cut, Ary “Jimged” Sendy, 2018